Bab 177 Pernikahan Yang Tak Dianggap
Novel berjudul Pernikahan Yang Tak Dianggap adalah sebuah novel yang bergenre romantic, banyak orang yang dibuat ketagihan untuk membaca novel ini, novel ini sangat terkenal karena jutaan orang telah membaca novel ini dan merasa puas.
Novel ini dapat membuat guncangan emosi yang kuat bagi
pembacanya, karena di setiap alur ceritanya membuat pembaca semakin ingin tau
kelanjutan dari cerita nya.
Teman – teman pasti penasaran dengan ceritanya bukan? Pada kali
ini saya akan memperkenalkan dan memberikan novel Pernikahan Yang Tak Dianggap,
Kami yakin anda pasti akan suka dengan novel ini, mari kita simak bersama novel
berikut ini.
Novel Pernikahan Yang Tak Dianggap Bab 177
"Mau ngapain?" tanya Kinara.
"Mau ikut masuk, sayang. Berendam berdua biar lebih
rilex" sahut David. Pria itu ikut masuk ke dalam bathup tanpa mempedulikan
wajah protes sang istri.
.
.
Waktu menunjukan pukul delapan malam, pasangan pengantin itu
baru saja selesai mandi dan memakai baju tidur. Wajah Kinara ditekuk sejak
tadi, wanita itu kesal karena sang suami mengerjainya saat berendam tadi.
David mengatakan, harus sering-sering melakukannya agar
terbiasa dan rasa sakitnya akan menghilang.
"Sayang" panggil David.
"Hmmm" sahut Kinara.
"Udah dong ngambeknya." rayu David.
Kinara tidak menjawab, wanita itu sibuk mengganti seprei dan
bantal yang basah akibat adegan padas yang mereka lakukan tadi.
"Sayang, jawab dong jangan diam aja," David
mengekori istrinya seperti bocah yang sedang meminta uang jajan.
"Apa sih? Nggak lihat ini aku lagi beberes" Kinara
menyahut dengan nada ketus sambil menunjuk sprei dan bedcover bersih di
tangannya. David terdiam dan kembali mengekori istrinya keranjang.
"Bantuin" ucap Kinara yang telah membentang sprei
diatas kasur.
"Kenapa nggak minta tolong sama Bik Marni aja,
sayang" ucap David sambil menyelipkan ujung sprei.
"Nggak, aku akan mencucinya sendiri" Kinara merasa
malu jika harus meminta tolong pada Bik Marni, apalagi bercak darahnya terlihat
jelas menempel disana.
"Emang kamu nggak cape, Yang? Kitakan tadi habis
...." Ucapan David terhenti kala sang istri menatap tajam ke arahnya.
"Aku capek sih, tapi mau gimana lagi" Kinara
memasang wajah sedih.
"Ya udah, Sayang. Minta tolong Bik Marni aja ya,
sebentar biar aku panggilkan" ucap David dan hendak keluar kamar.
"Jangan" ucap Kinara cepat.
"Kenapa?"
"Aku malu … Noh lihat!" Kinara menunjuk pada sprei
yang masih tergeletak di lantai. "Masah minta Bik Marnia cuci bekas
darahku. Atau Om saja yang cuci gimana?" Kinara memasang wajah memelas.
"Aku?" David bertanya sambil menunjuk dirinya.
Kinara pun mengangguk cepat.
"Baiklah," David terlihat pasrah dan mulai
memunguti sprei dan sarung bantal yang tercecer di lantai.
Melihat wajah ikhlas tidak ikhlas David, Kinara tersenyum
penuh kemenangan.
"Ingat ya dicuci sendiri" ucap Kinara lalu
menggandeng lengan sang suami dan berjalan ke arah pintu.
"Hmmmm" Wajah David terlihat lemas, langkah
kakinya terlihat berat keluar dari kamar.
"Tunggu" cegat Kinara. David pun berhenti dan
membalikan badan.
"Sekalian ambilkan aku nasi ya, Om. Aku sangat lapar,
Plisssssss" Kinara memohon dengan wajah gemas membuat David tidak mampu
menolaknya.
"Hemmmm" sahut David dan langsung berjalan cepat
turun kebawa sebelum sang istri memerintahnya lagi.
Kinara cekikikan sendiri sambil.menatap punggun David yang
mulai menghilang. "Rasain, siapa suruh kerjain tadi" ucap Kinara lalu
menutup pintu kamar dan berbaring diranjang sambil menunggu sang suami.
.
.
"Nasib-nasib, baru juga kawin sekali, udah disuruh
nyuci aja" keluh David pelan.
"Tuan, Maafkan saya, saya tidak mendengar panggilan,
Tuan" ucap Bik Marni dengan wajah panik. Wanita itu ketakutan saat melihat
David memasukan sprei kedalam mesin cuci. "Biar saya saja yang
melanjutkannya, Tuan" timpanya.
"Tidak, aku akan mencucinya sendiri. Bibik tunjukan
saja mana sabun untuk menghilangkan noda" sahut David.
"Tapi, Tuan," Bik Marni hendak protes namun David
menghentikannya.
"Tidak apa-apa, Bik. Bibik tunjukan saja yang mana
sabunnya dan apa yang harus saya lakukan."
"Baik, Tuan." ucap Bik Marni lalu mengambil botol
pembersih noda untuk David. "Ini, Tuan. Tuangkan langsung pada nodanya,
setelah itu kucak-kucak sebentar baru dicuci pake mesin" Jelas Bik Marnia
lalu berpamitan pergi.
Setelah mendapatkan penjelas dari Bik Marni, David langsung
mengerjakannya sesuai instruksi yang diberi.
David tampak serius mengucak bagian sprei yang terkena
darah, sampai-sampai ia tidak menyadari seseorang sedang menatapnya sejak tadi.…..(Bersambung)
Penutup
Bagaimana? apakah anda penasaran dengan kelanjutan
ceritanya? Pasti nya ketagihan dong, baiklah mari kita lanjut membaca ke bab
selanjut nya yaitu Bab 178 Novel Pernikahan Yang Tak Dianggap
Posting Komentar untuk "Bab 177 Pernikahan Yang Tak Dianggap "