Bab 3 Pernikahan Yang Tak Dianggap
Novel berjudul Pernikahan Yang Tak Dianggap adalah sebuah novel yang bergenre romantic,comedi dan fiksi banyak orang yang dibuat ketagihan untuk membaca novel ini, novel ini sangat terkenal karena jutaan orang telah membaca novel ini dan merasa puas.
Novel ini dapat membuat guncangan emosi yang kuat bagi
pembacanya, karena di setiap alur ceritanya membuat pembaca semakin ingin tau
kelanjutan dari cerita nya.
Teman – teman pasti penasaran dengan ceritanya bukan? Pada
kali ini saya akan memperkenalkan dan memberikan novel Pernikahan Yang Tak Dianggap,
Kami yakin anda pasti akan suka dengan novel ini, mari kita simak bersama novel
berikut ini.
![]() |
Bab 3 Pernikahan Yang Tak Di Anggap |
Novel Pernikahan Yang Tak Dianggap Bab 3
...Gedung Emerald Group...
Di dalam ruangan kerjanya, Alex tampak terganggu dengan
ucapan sang kakek pagi tadi. Apa maksud dari ucapan kakek tentang 'gadis itu
tak bersalah?' Selama ini, yang Alex tau Viona adalah gadis liar yang
memanfaatkan kakeknya hanya untuk mendapatkan uang.
Sejak awal sang kakek memintanya menikahi Viona, Alex telah
mencari tahu tentang identitas Viona, tapi tidak ada satu pun informasi yang ia
dapatkan. Alex semakin yakin, Viona adalah salah satu pemain kelas kakap alias
pemain senior yang telah ahli dalam menyembunyikan
identitasnya.
Alex melupakan satu kenyataan pasti bahwa, sang kakek adalah
Tuan Volcan Emeraldi, orang yang lebih berpengaruh pada masanya. Perkara
menyembunyikan identitas seseorang kakek lah senior sesungguhnya.
"David? Keruanganku sekarang." ucap Alex, dari
sebuah telepon kabel di atas meja kerjanya.
Tak butuh waktu lama, pria yang bernama David itu pun tiba.
"Bagaimana pencarianmu?" tanya Alex.
"Sorry, Boss. Sampai saat ini, orang-orang saya belum
mendapatkan info apapun" sahut David.
"Cihhh, urusan kecil begini saja kau tidak becus. Apa
perlu saya yang harus turun tangan ?"
"Maaf." Hanya kata maaf yang bisa pria itu
ucapkan, David hafal betul karakter atasannya, jika sudah ada kata-kata seperti
itu keluar artinya Alex telah berada dipuncak kesabarannya.
"Kosongkan semua jadwal sore nanti, kakek sedang sakit,
saya akan pulang lebih cepat." ucap Alex. Entah kenapa? Firasatnya tidak
enak sejak melihat kakek pagi tadi.
"Baik, Boss." David berpamitan keluar, ia
menyadari suasana hati bosnya yang sedang tak baik.
****************
"Vid, lebih cepat lagi" ucap Alex dengan nada
gelisa. Sebelumnya Alex berencana akan pulang jam tiga sore nanti, namun siapa
sangka, lima menit yang lalu, ia baru saja mendapat kabar dari orang rumah
bahwa keadaan kakek semakin memburuk.
Davin menoleh sejenak pada Alex yang duduk disampingnya lalu
kembali fokus pada kemudi, David berusaha menerobos macet, beberapa kali ia
menyalakan klakson agar pengendara lain memberi mereka jalan.
David bisa merasakan kegelisahan bosnya, Alex pasti ingin
berada didekat kakeknya saat-saat terakhir seperti ini.
Ciiittttt.
Angin menghembus dan berlalu begitu saja.
Sedan hitam milik Alex telah terparkir sempurna di depan
mansionnya. Pria itu terburu-buru turun dan melangkah cepat menuju kamar sang
kakek.
Semua keluarga telah berkumpul disana, tampak jelas raut
sedih dan gelisah diwajah mereka. Terutama
Nyonya Veronika. Wanita tua itu menggenggam erat tangan sang papa.
"Kakekmu, Lex" ucap Nyonya Veronika saat Alex
mendekat keranjang kakek, ia menangis sesenggukan dalam pelukan putranya.
Alex menarik napas dalam-dalam berusaha menetralkan
perasaannya, apapun yang terjadi, dirinya tidak boleh terlihat lemah. Alex
mengelus lembut pundak mamanya.
"Gimana keadaan, Kakek?" tanya Alex pada Dokter
Irwan.
"Maafin gua, Lex." sahut Dokter Irwan sambil
menggeleng pelan seolah memberi tanda, kakek sudah tidak ada harapan lagi.
Alex terdiam, ia paham maksud dari jawaban Dokter Irwan.
Pria itu menatap ke atas dengan kedua mata terpejam. Alex membuang nafas kasar
berusaha mengeluarkan sesak di dadanya, rasanya Alex belum siap kehilangan
sosok ayah untuk yang kedua kalinya. Namun, takdir berkata lain. Alex harus
mengikhlaskan sang kakek.
Alex melangkah maju dan duduk disisi ranjang kakek, seketika
pertahanannya runtuh saat menatap wajah keriput sang kakek sudah tak bernyawa
lagi.
"Maafkan Alex, Kek" Tubuh pria itu bergetar sambil
mencium tangan sang kakek.
Disisi lain, Viona tak kalah sedihnya atas kepergian Kakek
Volcan, ingin sekali Viona mendekat, memeluk, mencium tangan dan mengucap
kata-kata terakhirnya.
Namun, gadis itu tak punya kuasa. jangankan mendekat,
menangis pun harus bersembunyi.
Untunglah saat disaat-saat terakhit Nyonya Veronika yang menemani sang papa,
jika Viona yang bersama kakek saat itu, mungkin saja gadis itu akan langsung
jeblos ke dalam penjara karena dituduh telah membunuh Kakek Volcan.
Andai Viona tahu kakek akan pergi hari ini, Viona akan
menemani kakek sepanjang hari. Gadis merasa menyesal karena tidak berada
didekat sang kakek saat-saat terakhirnya.
"Tidak perlu sedih berlebihan, dia bukan kakekmu"
ucap Jessica dengan suara pelan tepat ditelinga Viona. Rupanya wanita itu
memperhatikan Viona sejak tadi.
"Apa maksud kamu berkata begitu? Tidak bisakah kamu
bersimpati sedikit saja disaat seperti ini?" tanya Viona dengan wajah
penuh air mata, ia merasa Jessica sungguh tak masuk akal.
"Menangislah sepuasmu karena sebentar lagi kamu akan
ditendang dari rumah ini. Pembelamu sudah me-ning-gal." Jessica sengaja
mengeja kata meninggal agar lebih jelas ditelinga Viona.
Viona menggeleng tak percaya, wanita berkelas seperti
Jessica benar-benar minim empati untuk orang sekitarnya, apa mungkin semua urat
rasa wanita itu telah mati?
Penutup
Bagaimana? apakah anda penasaran dengan kelanjutan
ceritanya? Pasti nya ketagihan dong, baiklah mari kita lanjut membaca ke bab
selanjut nya yaitu Bab 4 Novel Pernikahan Yang Tak Dianggap
Posting Komentar untuk "Bab 3 Pernikahan Yang Tak Dianggap "